Begitu nada pertamanya masuk, kita kayak langsung dilempar ke suasana tahun 90 an, menit pertama di isi dengan suara akustik gitar yang renyah, drumnya ringan, ditambah sentuhan string yang bikin hatinya hangat, tidak lebay, ndak maksa juga untuk sedih, pokoknya pas bangat dengan aura suasana di era kita2 masih sekolahan dulu, itu kalo klean pernah sekolah....wkwkwkwk. Temponya enak, di tengah-tengah antara semangat dan mellow, musik ini benaran bikin kita jadi ke ingat masa2 waktu sekolah dulu,..... moment2 romantis kejar2 an di lapangan sekolah, injak rumput yang masih basah, pamerin sepatu baru, naik sepeda bareng, ketawa di kelas, jajan pisgor makannya 5000 bayar nya 2000,.... pokoknya semuanya jadi nyatu. lagunya benar2 nemenin masa muda yang berantakan tapi seru. Bagaimana dengan dramanya ? Nonton drama ini kek buka album foto masa2 remaja dulu, settingnya tahun 1996 di sekolah biasa, fokus ke geng anak kelas,...nggak ada plot sinetron berat atau cinta s...
Cahaya malam membias di wajah Deng Yan, menyapu lembut kulitnya yang pucat diterangi lampu-lampu jalan yang temaram. Ia berdiri diam, membeku di depan sebuah warung kecil yang tampak biasa di mata orang lain, namun bagi Deng Yan, tempat itu adalah pintu kenangan yang tak pernah benar-benar tertutup. Tatapan matanya tajam, tapi tak menyimpan kemarahan, di balik sorotan sayu itu, ada beban yang berat, rasa bersalah yang sudah lama tertanam dan tak pernah bisa ditebus. Ia memandangi warung itu, tempat di mana sahabat masa kecilnya dulu sering duduk di samping ibunya, tertawa, bercerita, bermimpi. Kini warung itu sunyi, seperti hati sang ibu yang tak lagi punya tempat bersandar. Kepergian putrinya bertahun lalu bukan sekadar kehilangan, itu luka yang terbuka, dan Deng Yan tahu, sebagian dari luka itu ada karena dirinya. Ia tidak bisa menyelamatkan sahabatnya. Ia tidak bisa mencegah tragedi itu. Dan meski tak pernah diucapkan, ia tahu sang ibu menyalahkannya. Kadang dengan diam, kadang...